Mari kita bangun masa depan generasi dengan segala kemampuan dan daya upaya kita. Membangun generasi perlu dengan segala tindak tanduk rasional yang ditopang oleh keikhlasan dan kesadaran baru; bahwa masa depan bangsa dan generasi ini bukan lah hasil kariya dari kelompok tertentu saja. Tapi ini merupakan sumbangsih dari seluruh karya anak bangsa. Ini penting kita sampaikan sebagai bahan pembelajaran bagi elit-elit kita yang sedang menyeting huru-hara politik di pentas nasional. Ini mendesak kita teriakkan bersama, kerena ini momentum pesta kesombongan sedang dipertontonkan oleh mereka “partai politik” tanpa malu. Dulu ada slogan “bersama kita bisa”, akhir-akhir ini bergeser menjadi “bersama si “x” kita bisa.
Kondisi kekinian bangsa dengan kompleksitas masalah yang sedang dihadapi cukup menyita perhatian. Setiap anak bangsa yg kebetulan sedang mencari jati diri, dalam proses penemuan diri dan bangsanya, selalu gamang dan prihatin menonton pertunjukkan elit politik yang sedang berlangsung.
Aksi tuding menuding dengan caranya masing-masing, kian hangat. Kelompok pro penguasa telah menyampaikan beberapa kesuksesan yang diraih, lewat iklan politik di mass media yang ada, maupun gerakan intelijen partai dibelakang layar. Situasi akhirnya menjadi menarik setelah partai oposisi menyampaikan kritik balik dan menunjukkan daftar kegagalan pemerintahan sekarang. Di jendala lain saya menyaksikan ada caleg ketangkap narkoba, kena kasus tindak pidana, pengurus partai mengunjungi panti pijat, dll. Pertanyaanya kemudian, pembelajaran apa yang sedang di berikan oleh partai dan elit politik pada anak bangsa? Adakah kejujuran yang keluar dari setiap nyanyian mereka? Silakan para pembaca yang bisa menyimpulkan. Saya pribadi bingung.
Di sudut sana, para caleg sedang berbondong-bondong menemui para pengusaha sambil memperkenalkan tim sukses andalan. Si pengusaha itu mau menyumbangkan dananya dengan syarat kebijakan pemerintahan selanjutnya harus menguntungkan mereka. Dan Si “A” juga mau menjadi tim sukses dengan alasan, selain kenal dekat dengan kandidat (caleg/calon penguasa) juga berangan-angan akan mendapatkan getahnya kalau sudah menang pemilihan. Disinilah embrio lingkaran setan itu dimulai.” Hutang budi dibalas dengan budi, hutang nyawa dibalas dengan nyawa”. Itulah lontaran kalimat yang cukup popular dari zaman para tetua tempo dulu, hingga hari ini ternyata masih relefan.
kebiasaan seperti ini akan menghancurkan masa depan bangsa dan generasi. Entah siapa yg harus memulai dan entah bagaimana jalan yang ditempuh untuk memusnahkan kebiasa yang telah menjadi lingkaran setan ini. Apakah harus terulang kembali peristiwa tempo dulu, sekelompok pemuda menculik Bung Karno dirumah kediamannya, untuk memproklamirkan kemedekaan di bumi pertiwi ini. Atau mungkin harus ada revolusi social jilid baru?
Saya yakin tidak! Sekali lagi tidak! zaman telah berubah, demokrasi telah kita gelindingkan bersama dan momentum perubahan itu talah datang didepan kita. Pemilu 2009 adalah momentum strategis bagi terwujudnya icon baru di indonesia. Ini saatnya kesatria pingitan lahir memimpin generasi.
Didepan mata kita telah terpampang sederetan nama-nama calon pemimpin yg akan membawa bangsa ini lima tahun kedepan. Diantara mereka; Ada yg jujur tapi tidak berani negur kesalahan orang. Ada yang narkoba, sebagian ketahuan polisi sebagian belum. Ada yg jual ini dan itu untuk menjadi calon legislative (Caleg). Ada yang profesi akademisi tapi jarang lagi kekampus mengembang tanggung jawabnya. Ada yang ahli agama tapi jarang lagi berdakwah seperti dulu. Ada yang main perempuan dan korupsi diam-diam dan belum ketahuan. Ada juga yang militan dan menjadi harapan bangsa, tapi tidak punya cukup amunisi atau kurang lihai bergerak, malah mereka dikucilkan oleh kelompok lain yg terbanyak sekarang. Begitulah warna warni calon kita kedepan.
Saya tidak sedang memamerkan aib/dosa orang lain, karena saya sadar tidak ada manusia yang sempurna. Tapi andai saja menyebarkan aib/dosa para caleg/calon penguasa itu bisa memperbaiki masa depan bangsa dan generasi. Maka tindakan tersebut harus terus kita lakukan. Karena saya tidak ingin melihat wajah-wajah yang tidak bertanggung jawab itu, duduk sebagai dewan terhormat. Dan saya tidak ingin menyaksikan sebuah Film India yang bercerita tentang kekuasaan di India, menjadi fakta keseharian kita di Indonesia.
Hanya ditangan para pemimpin yang cerdas, berani dan bertanggung jawab, NKRI akan terus berkibar. Melaui tangan-tangan pemilih yang cerdas demokrasi bisa melahirkan pemimpin harapan bangsa. Suara-suara kesadaran itu hanya terlahir dari gerakan anak bangsa yang peduli pada mimpi besar bangsanya dan suara mass media Indonesia yang indipenden, berani dan bertanggung jawab
Masa depan bangsa dan generasi sangat ditentukan pada proaktif dan kecerdasan anda dalam mengambil keputusan politik pada pelaksanaan pemilu 2009. semoga kita bisa menentukan pilihan yang tepat sesuai hati nurani kita
Semoga!!!
Tulisan lain: www.forwakeb.ning.com

No comments:
Post a Comment