Sunday, February 1, 2009

MENATAP INDONESIA-KU; Media Massa, Salah Satu Pilar Demokrasi.

www.liputan6.com merupakan situs televisi Indonesia yang cukup digemari bagi kami anak rantau, merekatkan silaturahmi dan meng-up to date informasi tentang Indonesia. Disamping situs media cetak lainnya, seperti: Kompas, Jawa pos, atau tulisan dari Blogger.

Berbagai sumber berita yang sempat saya ikuti, secara garis besar, saya memberanikan diri berpendapat " belum banyak berubah bangsaku". Pertama, media massa sebagai salah satu pilar demokrasi, dalam pemberitaan dan penyikapan masalah, rupanya masih sangat jauh dari harapan untuk mendewasakan pemeriksa/reader. Contoh kekinian misalnya; isu Israil-Palaestina yang menjadi topik khusus SCTV dan pemberiataan media cetak, menurut saya malah membingungkan masyarakat. Yang nampak bukan perdebatan ilmiah yang akan melahirkan kesadara pikiran dan tindakan obyektif, sebaliknya sebuah respon emosional yang dibangun atas kesamaan faksi-faksi tertentu. Seolah-olah media memberi ruang untuk menjastifikasi bahwa reaksi keras rakyat dan pemerintahan Indonesia dilatar belakangi Indonesia mayoritas muslim. Makanya tidak heran komentar para pembaca dikolom media cetak, seperti: Kompas, merespon bernuansa faksi tertentu juga. Pada hal ada sesuatu yang lebih mendasar dari sekedar itu, yakni kita sedang melawan tindakan yang sedang menghancurkan martabat kemanusiaan, penjajahan dimuka bumi ini, melawan setiap tindakan melanggar kesapakatan damai. Atas dasar itulah berbagai manusia dan pemimpin diberbagai belahan dunia bergerak, seperti demonstrasi dan bahkan presiden Venezuela, Hugos chavez mengusir duta besar Israil dinegaranya.

Begitu pula pada saat publik Indonesia merespon terpilihnya Borrack Husein Obama sebagai presiden Amerika. Rekan-rekan kita yang berada di Menteng Jakarta, menyambutnya dengan pesta. SMS juga berdatangan dari teman-teman dekat saya menanyakan tentang Obama. Nuansa senang dan bangga juga ditunjukkan oleh media massa di Indonesia, hanya karena satu alasan, "Obama pernah tinggal di Menteng dan bapak tirinya orang Indonesia". Sebagai alasan awal, cukup bisa dimengerti. Tapi kalau saja terhenti disitu, maka alasan itu telah mengecilkan (ekstrimnya; meniadakan) nilai-nilai yang sedang diusung oleh Obama. Obama sedang meneriakan perubahan besar dalam tatanan rakyat Amerika dan Dunia. Keberpihakkannya pada kelompok ekonomi menengah-bawah (cutting taxes and bailout programs), dan perubahan pendekatan penyelesaian masalah dunia dari militeristik ke pendekatan baru yang lebih egaliterian. Itulah antara lain alasan rakyat Amerika memilihnya. Kemudian kapan kita bisa melakukan pilihan seperti itu???

Saat ini merupakan detik-detik dilaksakanannya pemilu 2009. Pertunjukkan politik sedang dimulai, mulai dari aksi partai-partai baru dan partai-partai lama memproduk isu maupun menampilkan kandidat capres/cawapres. Yang paling menarik ditonton adalah adegan partai demokrasi indonesia perjuangan (PDI-P) dan partai demokrat (PD), dikenal dengan istilah"permainan "Yoyo" yang dilontarkan megawati ke SBY. Sebaliknya kubu SBY menyebut permainan "gasing" sebagai simbolisasi kinerja pemerintahan megawati tempo dulu. Saya menyebutnya ini sebagai adegan panas menjelang pemilu yang sempat di pertontonkan. Lantas bagaimanakah peran media massa sebagai pilar demokrasi dalam kerangka mencerdaskan rakyat Indonesia menghadapi pemilu?

Menjelang pemilu Kondisi rakyat sedang terbuai, ternganga, bingung dan bahkan mungkin frustrasi (akhirnya akan golput). Mereka sedang terkotak-kotak dalam berbagai faksi (partai, agama, suku, dll). Pada tingkatan masyarakat tertentu, menentukan pilihan politik sangat dipengaruhi oleh orang-orang disekitar mereka, lebih-lebih yang mereka respek selama ini. Entah dilatarbelakangi faktor kedekatan emosional, ketokohan, dll. Berbeda dengan masyarakat dinegara maju, dalam satu rumah (bapak,ibu dan anak) berbeda pilihan tidak menjadi masalah, seperti yang terjadi pada terpilihnya Obama sebagai presiden. Rakyat Indonesia masih perlu waktu untuk bisa seperti itu. Malah faktanya ada satu keluaraga di Jawa timur terjadi perceraian dengan suaminya karena beda pilihan partai pada pelaksanaan pemilu 2004(baca; Kompas) . Disinilah saya maknai tugas media menjadi cukup menantang, bahkan saya menyebutnya sebagai kepanjangan tangan tuhan.

Dinegara maju seperti di USA fungsi media massa sangat vital, terutama menghadapi pemilu. karena tidak semua masyarakat mengetahui lebih jauh kompetensi dan sepak terjang capres. Berita yang disuguhkan media tidak hanya seputar program kampanye pemilu,juga meliputi informasi yang utuh menyangkut seorang figur (seperti; biografi, prestasi/kegagalannya, dll). bahkan beberapa channel televisi membahas secara khusus sepak terjang seorang kandidat. CNN, misalnya mengundang beberapa pakar, pengamat dan pelaku yang relevan sesuai topik yang sedang dibahas. Dan di tayangkan berulang-ulang pada beberapa jam tayangan berikutnya. Pada akhirnya publik mendapatkan informasi tambahan sebagai bahan pertimbangan mereka dalam mengambil keputusan politik.

Dalam situasi lain, bagaimana keberadaan media massa seperti; channel four (dinegara Inggris) cukup menghebohkan rakyat Inggris pada perayaan natal tahun ini. Mereka sengaja mengundang Ahmadinejad, presiden Iran, untuk menyampaikan pesan Natal. Siaran Channel Four tersebut dipandang sebagai penyeimbang atau alternatif dari pesan tahunan Ratu Elizabeth II kepada negara-negara persemakmuran. Dampaknya adalah media ini sedang mendapat kecaman dari pemerintahan Inggris dan Israil. Tapi mengundang editorial dari kelompok lain sebagai penyeimbang pemberitaan sudah biasa dilakukan oleh mereka.

Bisakah media massa Indonesia seperti itu???

2 comments:

  1. First of all, nice blog that you've just made here and great posting to discuss here obviously.
    Mass media matters became on issues had unfinished pros and cons. it's debatable.
    Obviously, comparing it toward to developed countries, such as Indonesia have many views on itself in parts of functions of media.
    On my opinion, local Medias in Indonesia have had big jump since 1998. They are a lot better and also their existence generally in objective position, comparing in US that rather often look snobby or are not objective enough coping any issues.
    My conclusion, our local Medias are not that bad. Further, I suspect globalization and capitalism that made all of us blinded (hegemony) by advanced states as epicenter of it. That’s my objection.
    Thanks

    Great fan,
    Agung
    www.agungndaru.wordpress.com

    ReplyDelete
  2. memang jika kita melihat kualitas demokrasi dinegara-negara maju dengan salah satu pilarnya "media massa" bergerak sejalan dengan kepentingan rakyat. posisi media seharusnya sebagai mediator untuk pencapaian misi 'walfare state' dari suatu negara. sejauh perjalanan demokrasi di Indonesia, media yang katanya sebagai salah satu pilar demokrasi belum optimal dalam menunjukkan eksistensinya. eksistensi yang ditunjukkan belum mengarah kepada keberpihakan kepada rakyat (society), justru lebih cendrung keberpihakannya kepada pemilik modal. memang tidak dapat kita pungkiri, bahwasanya dalam menggerakkan suatu media memerlukan financial yang cukup besar.

    ReplyDelete