Thursday, February 19, 2009

PERINGATAN DINI; Sunami politik telah tiba didepan kita!!!

Mari kita bangun masa depan generasi dengan segala kemampuan dan daya upaya kita. Membangun generasi perlu dengan segala tindak tanduk rasional yang ditopang oleh keikhlasan dan kesadaran baru; bahwa masa depan bangsa dan generasi ini bukan lah hasil kariya dari kelompok tertentu saja. Tapi ini merupakan sumbangsih dari seluruh karya anak bangsa. Ini penting kita sampaikan sebagai bahan pembelajaran bagi elit-elit kita yang sedang menyeting huru-hara politik di pentas nasional. Ini mendesak kita teriakkan bersama, kerena ini momentum pesta kesombongan sedang dipertontonkan oleh mereka “partai politik” tanpa malu. Dulu ada slogan “bersama kita bisa”, akhir-akhir ini bergeser menjadi “bersama si “x” kita bisa.

Kondisi kekinian bangsa dengan kompleksitas masalah yang sedang dihadapi cukup menyita perhatian. Setiap anak bangsa yg kebetulan sedang mencari jati diri, dalam proses penemuan diri dan bangsanya, selalu gamang dan prihatin menonton pertunjukkan elit politik yang sedang berlangsung.

Aksi tuding menuding dengan caranya masing-masing, kian hangat. Kelompok pro penguasa telah menyampaikan beberapa kesuksesan yang diraih, lewat iklan politik di mass media yang ada, maupun gerakan intelijen partai dibelakang layar. Situasi akhirnya menjadi menarik setelah partai oposisi menyampaikan kritik balik dan menunjukkan daftar kegagalan pemerintahan sekarang. Di jendala lain saya menyaksikan ada caleg ketangkap narkoba, kena kasus tindak pidana, pengurus partai mengunjungi panti pijat, dll. Pertanyaanya kemudian, pembelajaran apa yang sedang di berikan oleh partai dan elit politik pada anak bangsa? Adakah kejujuran yang keluar dari setiap nyanyian mereka? Silakan para pembaca yang bisa menyimpulkan. Saya pribadi bingung.

Di sudut sana, para caleg sedang berbondong-bondong menemui para pengusaha sambil memperkenalkan tim sukses andalan. Si pengusaha itu mau menyumbangkan dananya dengan syarat kebijakan pemerintahan selanjutnya harus menguntungkan mereka. Dan Si “A” juga mau menjadi tim sukses dengan alasan, selain kenal dekat dengan kandidat (caleg/calon penguasa) juga berangan-angan akan mendapatkan getahnya kalau sudah menang pemilihan. Disinilah embrio lingkaran setan itu dimulai.” Hutang budi dibalas dengan budi, hutang nyawa dibalas dengan nyawa”. Itulah lontaran kalimat yang cukup popular dari zaman para tetua tempo dulu, hingga hari ini ternyata masih relefan.

kebiasaan seperti ini akan menghancurkan masa depan bangsa dan generasi. Entah siapa yg harus memulai dan entah bagaimana jalan yang ditempuh untuk memusnahkan kebiasa yang telah menjadi lingkaran setan ini. Apakah harus terulang kembali peristiwa tempo dulu, sekelompok pemuda menculik Bung Karno dirumah kediamannya, untuk memproklamirkan kemedekaan di bumi pertiwi ini. Atau mungkin harus ada revolusi social jilid baru?

Saya yakin tidak! Sekali lagi tidak! zaman telah berubah, demokrasi telah kita gelindingkan bersama dan momentum perubahan itu talah datang didepan kita. Pemilu 2009 adalah momentum strategis bagi terwujudnya icon baru di indonesia. Ini saatnya kesatria pingitan lahir memimpin generasi.

Didepan mata kita telah terpampang sederetan nama-nama calon pemimpin yg akan membawa bangsa ini lima tahun kedepan. Diantara mereka; Ada yg jujur tapi tidak berani negur kesalahan orang. Ada yang narkoba, sebagian ketahuan polisi sebagian belum. Ada yg jual ini dan itu untuk menjadi calon legislative (Caleg). Ada yang profesi akademisi tapi jarang lagi kekampus mengembang tanggung jawabnya. Ada yang ahli agama tapi jarang lagi berdakwah seperti dulu. Ada yang main perempuan dan korupsi diam-diam dan belum ketahuan. Ada juga yang militan dan menjadi harapan bangsa, tapi tidak punya cukup amunisi atau kurang lihai bergerak, malah mereka dikucilkan oleh kelompok lain yg terbanyak sekarang. Begitulah warna warni calon kita kedepan.

Saya tidak sedang memamerkan aib/dosa orang lain, karena saya sadar tidak ada manusia yang sempurna. Tapi andai saja menyebarkan aib/dosa para caleg/calon penguasa itu bisa memperbaiki masa depan bangsa dan generasi. Maka tindakan tersebut harus terus kita lakukan. Karena saya tidak ingin melihat wajah-wajah yang tidak bertanggung jawab itu, duduk sebagai dewan terhormat. Dan saya tidak ingin menyaksikan sebuah Film India yang bercerita tentang kekuasaan di India, menjadi fakta keseharian kita di Indonesia.

Hanya ditangan para pemimpin yang cerdas, berani dan bertanggung jawab, NKRI akan terus berkibar. Melaui tangan-tangan pemilih yang cerdas demokrasi bisa melahirkan pemimpin harapan bangsa. Suara-suara kesadaran itu hanya terlahir dari gerakan anak bangsa yang peduli pada mimpi besar bangsanya dan suara mass media Indonesia yang indipenden, berani dan bertanggung jawab

Masa depan bangsa dan generasi sangat ditentukan pada proaktif dan kecerdasan anda dalam mengambil keputusan politik pada pelaksanaan pemilu 2009. semoga kita bisa menentukan pilihan yang tepat sesuai hati nurani kita

Semoga!!!

Tulisan lain: www.forwakeb.ning.com

Sunday, February 1, 2009

MENATAP INDONESIA-KU; Media Massa, Salah Satu Pilar Demokrasi.

www.liputan6.com merupakan situs televisi Indonesia yang cukup digemari bagi kami anak rantau, merekatkan silaturahmi dan meng-up to date informasi tentang Indonesia. Disamping situs media cetak lainnya, seperti: Kompas, Jawa pos, atau tulisan dari Blogger.

Berbagai sumber berita yang sempat saya ikuti, secara garis besar, saya memberanikan diri berpendapat " belum banyak berubah bangsaku". Pertama, media massa sebagai salah satu pilar demokrasi, dalam pemberitaan dan penyikapan masalah, rupanya masih sangat jauh dari harapan untuk mendewasakan pemeriksa/reader. Contoh kekinian misalnya; isu Israil-Palaestina yang menjadi topik khusus SCTV dan pemberiataan media cetak, menurut saya malah membingungkan masyarakat. Yang nampak bukan perdebatan ilmiah yang akan melahirkan kesadara pikiran dan tindakan obyektif, sebaliknya sebuah respon emosional yang dibangun atas kesamaan faksi-faksi tertentu. Seolah-olah media memberi ruang untuk menjastifikasi bahwa reaksi keras rakyat dan pemerintahan Indonesia dilatar belakangi Indonesia mayoritas muslim. Makanya tidak heran komentar para pembaca dikolom media cetak, seperti: Kompas, merespon bernuansa faksi tertentu juga. Pada hal ada sesuatu yang lebih mendasar dari sekedar itu, yakni kita sedang melawan tindakan yang sedang menghancurkan martabat kemanusiaan, penjajahan dimuka bumi ini, melawan setiap tindakan melanggar kesapakatan damai. Atas dasar itulah berbagai manusia dan pemimpin diberbagai belahan dunia bergerak, seperti demonstrasi dan bahkan presiden Venezuela, Hugos chavez mengusir duta besar Israil dinegaranya.

Begitu pula pada saat publik Indonesia merespon terpilihnya Borrack Husein Obama sebagai presiden Amerika. Rekan-rekan kita yang berada di Menteng Jakarta, menyambutnya dengan pesta. SMS juga berdatangan dari teman-teman dekat saya menanyakan tentang Obama. Nuansa senang dan bangga juga ditunjukkan oleh media massa di Indonesia, hanya karena satu alasan, "Obama pernah tinggal di Menteng dan bapak tirinya orang Indonesia". Sebagai alasan awal, cukup bisa dimengerti. Tapi kalau saja terhenti disitu, maka alasan itu telah mengecilkan (ekstrimnya; meniadakan) nilai-nilai yang sedang diusung oleh Obama. Obama sedang meneriakan perubahan besar dalam tatanan rakyat Amerika dan Dunia. Keberpihakkannya pada kelompok ekonomi menengah-bawah (cutting taxes and bailout programs), dan perubahan pendekatan penyelesaian masalah dunia dari militeristik ke pendekatan baru yang lebih egaliterian. Itulah antara lain alasan rakyat Amerika memilihnya. Kemudian kapan kita bisa melakukan pilihan seperti itu???

Saat ini merupakan detik-detik dilaksakanannya pemilu 2009. Pertunjukkan politik sedang dimulai, mulai dari aksi partai-partai baru dan partai-partai lama memproduk isu maupun menampilkan kandidat capres/cawapres. Yang paling menarik ditonton adalah adegan partai demokrasi indonesia perjuangan (PDI-P) dan partai demokrat (PD), dikenal dengan istilah"permainan "Yoyo" yang dilontarkan megawati ke SBY. Sebaliknya kubu SBY menyebut permainan "gasing" sebagai simbolisasi kinerja pemerintahan megawati tempo dulu. Saya menyebutnya ini sebagai adegan panas menjelang pemilu yang sempat di pertontonkan. Lantas bagaimanakah peran media massa sebagai pilar demokrasi dalam kerangka mencerdaskan rakyat Indonesia menghadapi pemilu?

Menjelang pemilu Kondisi rakyat sedang terbuai, ternganga, bingung dan bahkan mungkin frustrasi (akhirnya akan golput). Mereka sedang terkotak-kotak dalam berbagai faksi (partai, agama, suku, dll). Pada tingkatan masyarakat tertentu, menentukan pilihan politik sangat dipengaruhi oleh orang-orang disekitar mereka, lebih-lebih yang mereka respek selama ini. Entah dilatarbelakangi faktor kedekatan emosional, ketokohan, dll. Berbeda dengan masyarakat dinegara maju, dalam satu rumah (bapak,ibu dan anak) berbeda pilihan tidak menjadi masalah, seperti yang terjadi pada terpilihnya Obama sebagai presiden. Rakyat Indonesia masih perlu waktu untuk bisa seperti itu. Malah faktanya ada satu keluaraga di Jawa timur terjadi perceraian dengan suaminya karena beda pilihan partai pada pelaksanaan pemilu 2004(baca; Kompas) . Disinilah saya maknai tugas media menjadi cukup menantang, bahkan saya menyebutnya sebagai kepanjangan tangan tuhan.

Dinegara maju seperti di USA fungsi media massa sangat vital, terutama menghadapi pemilu. karena tidak semua masyarakat mengetahui lebih jauh kompetensi dan sepak terjang capres. Berita yang disuguhkan media tidak hanya seputar program kampanye pemilu,juga meliputi informasi yang utuh menyangkut seorang figur (seperti; biografi, prestasi/kegagalannya, dll). bahkan beberapa channel televisi membahas secara khusus sepak terjang seorang kandidat. CNN, misalnya mengundang beberapa pakar, pengamat dan pelaku yang relevan sesuai topik yang sedang dibahas. Dan di tayangkan berulang-ulang pada beberapa jam tayangan berikutnya. Pada akhirnya publik mendapatkan informasi tambahan sebagai bahan pertimbangan mereka dalam mengambil keputusan politik.

Dalam situasi lain, bagaimana keberadaan media massa seperti; channel four (dinegara Inggris) cukup menghebohkan rakyat Inggris pada perayaan natal tahun ini. Mereka sengaja mengundang Ahmadinejad, presiden Iran, untuk menyampaikan pesan Natal. Siaran Channel Four tersebut dipandang sebagai penyeimbang atau alternatif dari pesan tahunan Ratu Elizabeth II kepada negara-negara persemakmuran. Dampaknya adalah media ini sedang mendapat kecaman dari pemerintahan Inggris dan Israil. Tapi mengundang editorial dari kelompok lain sebagai penyeimbang pemberitaan sudah biasa dilakukan oleh mereka.

Bisakah media massa Indonesia seperti itu???